Bila ada pepatah tikus mati di lumbung padi, pastilah itu tikus serakah, yang makan tanpa ukuran sampai mati kekenyangan. Nyaris sama dengan beberapa pejabat Bulog yang karena kerakusan dan keculasan akalnya memakan beras rakyat, sampai kemudian mereka “mati budi”, lalu dibui karena korupsi.
Tapi yang ini bukan pepatah, melainkan kasunyatan. Besse (36 th) yang tengah hamil tujuh bulan bersama Bahir (5 th), anaknya, Sabtu (1/3), meninggal setelah menderita kelaparan akibat tiga hari tidak makan. Sedangkan tiga anaknya yang lain bisa diselamatkan setelah masyarakat membawanya ke rumah sakit. Salma (9 th) dan Baha (7 th), segar kembali setelah diberi makan yang cukup. Sedang si bungsu Aco (3 th), sempat dehidrasi dan tidak sadarkan diri. Setelah didoping infus 3 botol, Aco siuman, meski panasnya masih tinggi.
Besse bersama keluarganya, tinggal di Jalan Daeng Tata I blok V Lorong 2, Makasar, Sulawesi Selatan. Basri, suami Basse, adalah tukang becak. Menurut Basri anak dan istrinya meninggal setelah tidak makan selama 3 hari. Penghasilannya yang Rp 10 ribu sehari tak cukup untumenafkahi keluarganya. Beras 1 liter untuk makan 3 hari. Sehari 1 kali makan bubur.
Tragis dan ironis memang peristiwa ini. Kejadiannya di tengah kota, di wilayah yang dikenal sebagai lumbung pangan. Dokter RS Haji Makassar Putu Ristiya yang merawat Aco, mengatakan, “Saat baru tiba di rumah sakit kondisi kesehatan Aco sangat kritis karena dehidrasi. Pada usianya yang 3 tahun, beratnya hanya mencapi 9 kilogram. Padahal untuk anak seusia ini berat idealnya 15-20 kg. Jadi, ini positif marasmus (gizi buruk).”
Lebih ironis lagi ketika para pemegang tampuk kekuasaan justru lebih piawai menggeser substansi masalah, dengan mengatakan kematian Besse dan Bahir, tak ada hubungannya dengan gizi buruk. Bukan melakukan upaya agar hal seperti itu tak terjadi lagi.
Kepada beberapa media, Wal I Kota Makassar, Ilham Arif Sirajudin, memastikan Besse dan Bahir tewas lantaran diare akut. Kepala Dinas Kesehatan Makassar Naisyah T Azikin, berpendapat sama. Tak ada indikasi gizi buruk. “Menderita kelaparan, harus dibedakan dengan gizi buruk,” katanya. Kedua punggawa pemerintah itu juga menyesalkan, masyarakat, terutama Basri, suami yang tidak tanggap pada keluarganya. ”Padahal kalau berobat ke Puskesmas, Pemerintah Kota Makassar tak menarik biaya sepeser pun bagi keluarga miskin.”
Sesal memang selalu datang belakangan. Namun sebelum maut menjemput, bisa jadi Besse, sudah bertanya-tanya di mana tetangga? Dimana kepala desa? Di mana camat? Dimana Wali Kota? Di mana pemerintah? Di mana raskin? Di mana BLT (Bantuan Langsung Tunai)? Dan di mana akhir kehidupan?
Pemda Makassar, memiliki 15 program pengentasan kemiskinan dan ada strategi penanggulangan kemiskinan daerah yang telah disusun. Prestasinya lumayan. Indeks pembangunan manusia menempati urutan kelima nasional. Kota ini juga punya 31 kebijakan yang berhubungan dengan masyarakatnya, dan 26 di antaranya wajib terpenuhi. Diantaranya adalah akses pangan, serta menggratiskan layanan kesehatan unuk keluarga miskin sejak tahun 2006.
Bisa saja program tersebut hanya menjadi elitis belaka, ketika implementasinya tidak seperti yang diharapkan. Dalam pendataan orang miskin misalnya. Seperti diakui Wali Kota, Keluarga Basri ternyata, belum terdaftar sebagai warga miskin, meskipun ia sudah 1 bulan tinggal di Makasar. Apakah itu berarti Besse dan Bahir tak layak mendapatkan berbagai pelayanan yang disediakan pemerintah kota terhadap warga miskin, seperti Raskin dan layanan kesehatan gratis?
@foto Media Indonesia/Antara
See…
Satan: Vanity… is definitely my favourite sin.
Diandra
4 Mar 08 at 10:02 am
jadi orang miskin harus daftar? hugh, aturan yang aneh
Ndoro Kakung
4 Mar 08 at 11:49 am
hati-hatilah kalian para pemimpin! hati-hatilah, semut mati kelaparan di wilayah kekuasaan kalian akan meminta pertanggung jawaban kalian kepada Allah, apalagi manusia yang mati!
Om Guyon
4 Mar 08 at 5:38 pm
sungguh miris memang melht kejadian sprti ini, semga dengan kejadian ini pemerintah lebih memperhatikan rakyatnya…
Ghatel
8 Mar 08 at 2:20 pm
precaya apa ora, nyong tau entuk kartu penerima beras miskin…. jan… eselon papat koh entuk kertu raskin…. ning ya pancen nyong melarat sih… hahahahaha
mendoan
11 Mar 08 at 1:30 pm
[…] DEDICATED TO THIS. AND WONDER WHAT WILL HAPPEN IN 2009. THOSE POLITICIANS… ARRRGHHH!! […]
mendo.an » Blog Archive » Arep Mangan Apa Jajal?
11 Mar 08 at 2:23 pm
Humph. Someone has to force me to read this post. It’s too big and boring. Brevity is the sister of talent, remember that.
Dominick
7 Apr 08 at 1:18 am
Seems different from your previous posts. Did YOU write this post, or someone else did? Anyway, I think your readers really enjoyed reading it.
easypctips
9 Apr 08 at 5:17 pm