fokus | dagdigdug

melontar di tengah kabar

Memilih Gubernur Bank Sentral Kok Sulit  

Hidup itu soal pilihan, kata para arif bijaksana. Tapi, justru dalam soal memilih itulah kita rupanya menghadapi banyak masalah. Ada banyak faktor, sejumlah kriteria, syarat yang mesti dipertimbangkan, lalu ada seleksi, sebelum pilihan dijatuhkan. Proses memilih akhirnya menjadi sesuatu yang tak mudah.

Kalau sampean mau memilih pasangan, misalnya, orang-orang tua selalu wanti-wanti agar mempertimbangkan bobot, bibit, dan bebet sang calon. Begitu pula ketika sampean memilih teman bergaul, sekolah, tempat kerja, dan sebagainya. Syarat-syarat ditetapkan. Teman itu harus pintar, baik, setia, dan seterusnya. Tempat kerja itu yang dekat rumah, memberi gaji besar, tunjangan, dan pensiun. Pendeknya, memilih apapun itu tak mudah.

Itu sebabnya memilih calon gubernur Bank Indonesia pun jadi seperti mencari jarum di antara tumpukan. Presiden sudah mengajukan dua calon, Agus Martowardojo dan Raden Pardede yang dianggap layak dan memenuhi kriteria. Namun, wakil rakyat di Senayan menolak mereka mentah-mentah dengan alasan sebaliknya. Dua kandidat itu dianggap tak cukup punya kompetensi memimpin bank sentral. Pemerintah terpaksa mencari calon baru.

Susahkah mencari calon yang sesuai keinginan orang ramai? Mungkin iya, mungkin tidak. Pengurus PSSI, misalnya, mungkin salah satu contoh yang sulit memilih. Kenapa? Karena mereka tak kunjung mengganti Nurdin Khalid, sang ketua lama. Walau didesak dari kiri dan kanan, pengurus PSSI ngotot mempertahankan Nurdin. Padahal Nurdin dianggap sudah tak becus lagi mengelola organisasi sepak bola itu.

Para pengurus partai juga contoh lembaga yang sulit mendapatkan tokoh yang akan diajukan sebagai calon presiden tahun depan. Apalagi rakyat yang akan memilihnya. Padahal stok pemimpin yang layak diajukan tak banyak. Akibatnya, yang muncul di permukaan hanya yang itu itu saja, wajah lama. Dan tak menarik semua.

Mengapa kita susah memilih? Benarkah kita memang tak punya pilihan?

Menurut hemat saya, yang belum tentu hemat buat sampean, memilih itu mudah, asal syaratnya jelas dan terukur. Katakanlah kita hendak memilih tulisan yang baik. Syarat tulisan yang baik itu ya harus lengkap, penuturannya enak dan lancar, bahasanya jelas dan lugas. Jika ukuran dan syaratnya sudah ada dan jelas, kita tinggal menyaring mana tulisan yang baik dan mana yang tidak.

Begitu pula kalau kita mau memilih orang. Seandainya ukuran dan kriterianya ada ada dan jelas, ya tinggal bikin seleksi atau penyaringan saja.

Segampang itu? Memang. Memilih jadi sulit kalau syarat dan kriterianya mengandung unsur kepentingan. Ya kepentingan orang per orang, kepentingan kelompok, lembaga, partai, dan sebagainya. Soalnya, biasanya, yang namanya kepentingan ini tak disampaikan secara terbuka. Orang dibiarkan menebak-nebak apa yang sesungguhnya diinginkan. Biarpun ada banyak calon, proses seleksi atau penyaringannya jadi sulit. Selalu ada saja yang dianggap kurang memenuhi kriteria. Ya seperti kasus pemilihan calon gubernur bank sentral itu.

Lalu bagaimana dong? Ya hapus dulu kriteria berdasarkan kepentingan itu. Selanjutnya pasti gampang.

Ah, yang bener ….

The article has

9 responses

Written by Ndoro Kakung

March 20th, 2008 at 12:47 am

9 Responses to 'Memilih Gubernur Bank Sentral Kok Sulit'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Memilih Gubernur Bank Sentral Kok Sulit'.

  1. gitu aja koq repot :D

    he he he, ginilah akibat terlalu banyak kepentingan golongan, tanpa mau mendahulukan kepentingan rakyat indonesia.

    jadi ragu aku ikut pemilu 2009, kl dpr serta pemerintah sepertinya salinga mengamankan golongannya sendiri begitu.

    nganu

    20 Mar 08 at 4:46 pm

  2. betul.
    seperti misalnya ketika akan memilih mo ngeblog apa garap skripsi.
    wah, susah banget itu.
    apalagi ada unsur kepentingan disitu.
    **lha..?!!**

    -tikabanget-

    21 Mar 08 at 3:59 am

  3. Bukankan DPR = Dewan Pengabaian Rakyat ?
    Bukan sudah biasa rakyat di abaikan?

    Penjahat(4-3)D

    21 Mar 08 at 8:08 pm

  4. Memilih siapapun untuk pos apapun harus ada ukuran dan aturan nya. Kalo tidak, ya seperti sekarang ini, kusut.

    Lha wong jelas-jelas si calon ‘bau’ kriminal, kok ya masih ngotot di jagokan ya ?

    Aneh, yg mencalonkan -biasanya partai besar- dan yg dicalonkan, mereka sama saja, gak punya malu.

    Kasihan kita ya…..

    baratayudha

    24 Mar 08 at 3:02 pm

  5. yang lebih kasihan itu anak cucu kita. belum lahir, sudah pasti mereka menanggung:
    - beban hutang, karena ternyata para pembesar negeri ini makan dan hidup enak dari ngutang atas nama rakyat.
    - beban malu, yah karena nomor 1 itu.

    nganu

    24 Mar 08 at 11:04 pm

  6. kata orang bijak: orang pinter itu adalah orang membuat persoalan rumit menjadi gampang. dan orang bodoh adalah orang yang membuat persoalan gampang menjadi susah.

    trus, orang yang disuruh memilih tapi ‘nggak mau milih, malah minta untuk dicarikan pilihan lain itu orang pinter apa orang bodoh ya?

    rasanya

    25 Mar 08 at 6:05 pm

  7. kata orang, hidup itu adalah soal plihan. kalo milih (gubernur BI) sekali kemudian langsung disetujui kok rasanya nggak asyik. mending milih berkali-kali, ditolak berkali-kali dan akhirnya dapat yang terbaik. ini rasanya lebih afdol soalnya lebih gurih, lebih legit. halah, kek milih gorengan sajah… !

    jalansutera

    7 Apr 08 at 6:06 pm

  8. Meskipun syarat yang berbau kepentingan telah dihapus kok rasanya masih sulit juga ya.Tapi memang akan jauh lebih mudah. Lha wong subyektifitas penilaian pasti juga masih ada. Persepsi yang terbentuk juga akan pasti akan sangat dipengaruhi background masing-masing. Tapi memang akan jauh labih baik. Setuju dengan menghapus kepentingan dulu. Hidup kepentingan..!!! Eh salah ya…piss.

    kidemang

    9 Apr 08 at 4:04 pm

  9. Sounds great! Your blog is one of my most favorite now ;). You have hit the nail on the head, just like you always do.

    rooster

    11 Apr 08 at 2:16 pm

Leave a Reply