fokus | dagdigdug

melontar di tengah kabar

Jangan Menjebak, Kata SBY  

kena lu!Itulah yang terjadi. Muncul tafsiran bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono “kurang menyukai penjebakan” terhadap koruptor. Rujukan yang ditafsir adalah pidato presiden di Istana Negara, 15 April lalu.

Istana bisa berkilah itu hanya pendekatan normatif, agar edukasi hukum dikedepankan sehingga rakyat lebih melek hukum.

Istana juga boleh berkilah agar rakyat membaca keseluruhan teks, bukan hanya mengandalkan kutipan oleh media.

Artinya, bagi Istana, itu bukan sebuah imbauan agar koruptor tidak dijebak. Tapi nyatanya konteks sosial — dalam arti latar berisi serangkaian penangkapan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi — bisa memunculkan tafsir yang kurang menyenangkan.

Tapi juga berlebihan jika kita menuduh SBY menenggang korupsi. Tanpa restu presiden, mana mungkin mafia kayu Ketapang, Kalimantan Barat, bisa diaduk-aduk.

Inilah petikan pidato SBY saat membuka sebuah konvensi hukum nasional itu:

Saya punya prinsip begini Saudara-saudara, kalau ada warga negara kita yang berbuat kesalahan, melakukan pelanggaran dan kejahatan secara hukum, karena mereka tidak tahu kalau itu dilarang, kalau itu tidak boleh oleh hukum dan peraturan, maka sesungguhnya kita ikut bersalah. Yang lebih jelek lagi, jangan sampai menjebak, biarkan saja, pasti nanti kena nanti, padahal kita bisa mengingatkan.

Undang-undang selalu berpengandaian bahwa semua orang melek hukum. Semua orang itu termasuk yang tidak melek aksara.

Urusan selanjutnya adalah kebijaksanaan hakim, yang antara lain berlandaskan akal sehat. Seorang pejabat publik (apalagi dari korps penegak hukum), yang telah dijejali santiaji, dan bahkan pernah mengucapkan sumpah jabatan, pastilah melek hukum.

Edukasi yang tepat bagi mereka hanya dua. Pertama: melihat sejawatnya masuk bui untuk menjalani nestapa — suatu hal yang sesuai teori kuno pemidanaan. Kedua: boleh dijebak agar barang bukti, dan saksi, makin kuat.

Begitu kan, Pak?

© Ilustrasi: oldprof.com

The article has

6 responses

Written by paman tyo

April 17th, 2008 at 11:37 pm

Posted in Hukum, Sosial

Tagged with , , ,

6 Responses to 'Jangan Menjebak, Kata SBY'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Jangan Menjebak, Kata SBY'.

  1. Jawaban untuk pertanyaan terakhir :
    “Kayaknya sih begitu”. :D

    Pernyataan SBY kemaren sebenernya bersifat menjebak….yaitu menjebak rakyat dalam ketakutan, akan kata ‘jebakan’ yang mungkin jadi kekuatan setan di masa depan.

    :)

    gagahput3ra

    18 Apr 08 at 7:21 am

  2. Kalau obyek-nya adalah rakyat, menurut saya statement SBY ‘is OK’. Kita nggak bisa berharap 200 juta rakyat semuanya sudah pasti melek hukum. ‘Lha wong’, tiap kali ada hukum / aturan baru, pemerintah nggak pernah melakukan sosialisasi dengan benar.

    Tapi kalau obyek-nya adalah pejabat negara, statement itu jadi ngawur. Kalau mau jadi pejabat, ya harus melek hukum. Kalau tidak, trus mau pake cara apa dia bekerja? Cara pak ogah / preman pasar?

    Atau, jangan-jangan, SBY takut dia sendiri yg terjebak?

    Bagus

    20 Apr 08 at 2:52 am

  3. maju terus KPK dan Slank

    aries

    20 Apr 08 at 1:25 pm

  4. Kayak prosesor intel, kalo core duo kan cuepet. Edukasi agar melek hukum jalan terus tapi penjebakan juga lanjut. Wong dijebak saja ngeles je

    baratayudha

    20 Apr 08 at 10:39 pm

  5. […] Fokus: SBY kata jangan menjebak meski koruptor makin merebak ketangkep satu di luar banyak usul saya sih langsung tembak Filed under 1 | […]

  6. yang dijebak itu jangan yang mau dijadikan tumbal, yang dijebak itu kalau gak ketangkep-tangkep

    isnan

    8 May 08 at 7:35 am

Leave a Reply