fokus | dagdigdug

melontar di tengah kabar

Archive for May, 2008

REPUBLIK DAGDIGDUG  

\Kocap kacarita, terebutlah sebuah negeri yang terkenal gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kertaraharja, subur kang sarwa tinandur. Pokonya kaya, aman, nyaman, sejahtera serta subur tanahnya, tumbak kayu dan batu pun jadi tanaman. Tapi itu dulu….dulu sekali, sebelum orang mengenal Nasdaq, Hanseng, NYSE, BEJ, serta OPEC maupun Googling.

Lain dulu lain sekarang. Ketika perekonomian Amerika –negara tetangga yang jauh di ujung dunia sebelah sana—kocar kacir akibat krisis Subprime Mortgage (kredit perumahan berkualitas rendah) yang berkepanjangan. Negeri ini jadi dagdigdug nggak karuan. Efeknya sampai ke sini. Apalagi ketika harga minyak dunia terus beranjak naik sampai 124 US$ bahkan diramalkan (mudah-mudahan jangan) bisa mencapai 200 US$ per barrel. Degup jantung negeri ini semakin kencang.

Kenapa bisa begitu, padahal negeri ini adalah anggota OPEC, negara pengekspor minyak? Kenapa ketika harga minyak membubung tinggi kok tidak bisa mendapat manfaat, malah dapat musibah? Benar. Negeri ini menjadi anggota OPEC sejak tahun 1962. Ketika itu produksi minyaknya mencapai 1,6 juta barrel per hari, dan konsumsi minyaknya masih dibawah 1 juta barrel per hari. Karenanya masuk OPEC jadi strategis, untuk bisa ikut menentukan harga minyak dunia. Read the rest of this entry »

The article has

11 responses

Written by yusro

May 20th, 2008 at 6:26 pm

Kado untuk Pejabat: Urusan Privat atau Publik?  

hadiahDua hari setelah menikah, Ketua MPR-RI Hidayat Nur Wahid diperiksa KPK. Setelah mantu pekan lalu, Sri Sultan Hamengku Buwono X juga diperiksa oleh KPK. Sebagian dari kita mungkin risih. Masa sih pemeriksaan hadiah itu harus diumumkan, kenapa tak diam-diam saja?

Ruslan SE, Ketua Partai Indonesia Sejahtera PIS Sumatra Utara, berkomentar, “Pemberian ‘angpau’ bersifat pribadi sehingga pemeriksaan tersebut terlalu berlebihan karena bukan termasuk korupsi.”

Baiklah, mari kita urutkan. Landasan hukumnya ada. Setelah itu, apa boleh buat, adalah publisitas. Supaya pemeriksa kelihatan bekerja menjalankan amanat. Agar si terperiksa berkesempatan menunjukkan diri sebagai warga negara yang baik.

Oh, no problem dong mestinya? Masalahnya simpel saja kan? Semoga.

Ada yang lebih menarik dari publisitas ini, di luar citra diri lembaga pemeriksa dan obyeknya. Soal apa? Edukasi. Mendidik masyarakat.

Lho, memangnya masyarakat itu bodoh? Tidak. Hanya saja mereka kadang terlalu toleran dan akhirnya membenarkan sejumlah praktik menyimpang. Penyebabnya? Antara lain ya “tradisi”. Read the rest of this entry »

The article has

5 responses

Written by paman tyo

May 16th, 2008 at 11:48 am

Posted in Hukum, Sosial

Tagged with , , ,

Sekolah: untuk Membentuk atau Dibentuk?  

the wall: pink floyd, we don't need no educationNanti ketika anak-anak itu merayakan kelulusannya dengan corat-coret baju dan coreng-moreng wajah, kebahagiaan macam apakah yang mereka rasakan?

Lulus dengan mencontek, yang kuncinya disediakan oleh guru. Lulus karena koreksi jawaban oleh guru. Lulus karena formula penilaian diubah oleh birokrat pendidikan agar mengangkat yang bernilai rendah.

Bayangkan, untuk mencontek pun anak-anak itu tidak punya langkah kreatif, tetapi tinggal memanfaatkan kreativitas guru yang berawal dari operasi subuh.

Akan tetapi percayalah, ada saja murid, sekelas pula, yang ogah mencontek. Seorang guru SMP negeri di Jakarta Timur, yang pernah menjadi pengawas ujian di sekolah “luar negeri” (pinjam istilah Alix artinya “swasta”) yang kebetulan berkualitas abal-abal, jadi bingung ketika tawaran kepada peserta untuk mencontek temannya tak diacuhkan.

“Mau mencontek apa dari siapa, wong sekelas nggak ada yang bisa njawab soal bahasa Inggris itu,” kata Pak Guru asal Klaten itu. Hal sama berlaku untuk matematika. Read the rest of this entry »

The article has

5 responses

Written by paman tyo

May 12th, 2008 at 10:59 am

Posted in Sosial

Tagged with , , , ,