fokus | dagdigdug

melontar di tengah kabar

Sekolah: untuk Membentuk atau Dibentuk?  

the wall: pink floyd, we don't need no educationNanti ketika anak-anak itu merayakan kelulusannya dengan corat-coret baju dan coreng-moreng wajah, kebahagiaan macam apakah yang mereka rasakan?

Lulus dengan mencontek, yang kuncinya disediakan oleh guru. Lulus karena koreksi jawaban oleh guru. Lulus karena formula penilaian diubah oleh birokrat pendidikan agar mengangkat yang bernilai rendah.

Bayangkan, untuk mencontek pun anak-anak itu tidak punya langkah kreatif, tetapi tinggal memanfaatkan kreativitas guru yang berawal dari operasi subuh.

Akan tetapi percayalah, ada saja murid, sekelas pula, yang ogah mencontek. Seorang guru SMP negeri di Jakarta Timur, yang pernah menjadi pengawas ujian di sekolah “luar negeri” (pinjam istilah Alix artinya “swasta”) yang kebetulan berkualitas abal-abal, jadi bingung ketika tawaran kepada peserta untuk mencontek temannya tak diacuhkan.

“Mau mencontek apa dari siapa, wong sekelas nggak ada yang bisa njawab soal bahasa Inggris itu,” kata Pak Guru asal Klaten itu. Hal sama berlaku untuk matematika.

Kemudian penyerbuan satuan antiteror ke sebuah ruang guru hanyalah bagian dari kemelut pendidikan di negeri ini. Sebuah pedagogi absurd telah dipamerkan, melengkapi keanehan rutin: ujian sekolah yang dijaga polisi, seolah lebih berbahaya ketimbang konser paling rusuh.

Penyerbuan eksesif itu menegaskan satu hal. Sekolah sedang disandera oleh kemuliaan sistem pendidikan yang ajaib.Tapi penyerbuan itu bukan untuk membebaskan melainkan untuk menambah kekusutan. Securang-curangnya guru, mereka bukanlah teroris sasaran Detasemen Khusus 88.

Semua ilustrasi tadi melengkapi kasus Air Mata Guru, ketika para pendidik yang menguak skandal kecurangan malah disingkirkan oleh korpsnya sendiri.

Betulkah hanya sekolah yang tersandera? Tidak. Seluruh masyarakat kita. Termasuk anggota satuan itu di luar tugasnya, karena mereka juga orangtua murid.

Ujian sekolah, mau namanya Ebtanas, mau UAN, entah apa, hanyalah pemulus agar setiap siswa lulus.

Ketidaklulusan berarti aib bagi murid, orangtua murid, guru, sekolah, dan birokrat pendidikan. Bukan hanya aib melainkan juga palu kutukan. Nestapa — berupa amuk murid gagal uji — hanyalah bonus.

Pertanyaan kita adalah: lembaga pendidikan itu untuk membentuk masyarakat atau sekadar mengesahkan apa yang berlangsung nyata — meski tak ideal — dalam kehidupan?

SIM boleh beli. IMB boleh kongkalingkong. Tabung gas murah untuk rakyat bawah jatuh ke warga yang mampu beli dua tabung reguler. Selebihnya silakan Anda tambah sendiri.

Kita kadung demen mengabaikan standar. Segala hal bisa dikompromikan atas nama semangat kekeluargaan. Begitu kacaunya standardisasi sehingga pada abad lalu bisa terjadi status sekolah swasta yang bagus “disamakan” dengan sekolah negeri yang jelek.

Celakanya, sekolah bukanlah lembaga asing dari planet luar. Sekolah yang berisi guru, murid, orangtua murid, dan birokrat pendidikan, adalah bagian masyarakat nyata.

© Ilustrasi: thewallanalysis.com

The article has

5 responses

Written by paman tyo

May 12th, 2008 at 10:59 am

Posted in Sosial

Tagged with , , , ,

5 Responses to 'Sekolah: untuk Membentuk atau Dibentuk?'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Sekolah: untuk Membentuk atau Dibentuk?'.

  1. Kegagalan pemerintah sekarang yang mengerikan dampaknya di masa depan ya sektor pendidikan ini. Kegagalan merintis jalan luhur pembentukan karakter anak didik adalah kegagalan memahami diri kita sendiri….

    Piye, Paman? kita bikin TK, SD, SMP dan SMU dagdigdug aja? Pelajarannya: ngeblog sambil merayakan keberagaman. Tapi ntar disuruh pemerintah ikut UAN juga ya? Hikksss….

    Mrs. Happy

    12 May 08 at 9:44 pm

  2. Iy tu paman… Saya sebagai pelajar juga menyayangkan hal itu?? Kenapa kelulusan itu selalu dinodai dengan mencontek?? Padahal masa depan mereka berawal dari situ.. Benar paman?? Apakah mereka tidak memikirkan dampak apa yang akan mereka terima jika mereka melakukan hal seperti itu?? Tapi hal seperti ini sudah merajalela paman..
    Nah sekarang paman kita tinggal tunggu saja MenDikNas tahun depan siapa?? Dan kita tunggu apakah Kurikulumnya akan berganti lagi?? Kurikulum yang selalu berganti - ganti dan tidak jelas itulah yang membuat siswa dan guru kewalahan.. Kenapa pemerintah tidak memikirkan hal ini??

    Dimas

    13 May 08 at 9:06 am

  3. ada anak kirim sms pada ayahnya, tanya jawaban pas ulangan. si ayah langsung googling di kantor. ini juga keterlibatan orang tua yg salah kan ya? tapi kalo dipikir2, pendidikan atau keilmuan di indonesia tidak pernah dihargai setinggi pelaku perang. salah satu petunjuknya, tidak ada jalan protokol yg memakai nama ilmuwan atau tokoh pendidikan. semua militer.

    mpokb

    13 May 08 at 10:19 am

  4. *ada yg manggil2 aLe neh* Ya saya! :D

    Ah, semakin menegaskan aLe untuk tidak masuk ‘lingkaran setan’ itu :( bagaimana tidak, mau ikut, kok hati menentang, mau gak ikut kok di’musuhi’ teman sekantor, huh iklim kerja yg aneh.
    *mencoba sebisa mungkin menciptakan peluang kerja sendiri*

    aLe

    13 May 08 at 4:17 pm

  5. **hanya bisa bergumam melihat fakta itu smua** (hehe sok wise gw)
    kalo temen gw suka bilang saat melihat fakta keterpurukan semua lini di bangsa tercinta ini, dengan ucapan. Kayaknya harus ada missing link pada kebersinambungan bangsa ini. jadi harus musnah semua dulu manusia Indonesia, termasuk aku dan kau..**heks** Baru diciptakan manusia baru yang tidak ada hubungan sama sekali dengan generasi kita kebelakang… **heks khayal banget**

    Tapi Kalo gw sih selalu OPTIMIS, bahwa kebaikan dan perbaikan pasti akan Muncul lagi, soon or later..Karena siklus kehidupan kan begitu..Baik–>agak baik–>buruk–>buruk banget—>jahat– Musnah.. trus muncul lagi kebaikan.. silih berganti dg kejahatan.

    waks gw kok kayak bicara dari Langit.

    Yang Jelas. “Bangkitlah Bangsaku Harapan itu Masih Ada”

    Aku tidak mau bangsa ini terpuruk, Paman ….
    **dengan gaya pengucapan seperti pemain sinetron***

    Yehia

    15 May 08 at 10:49 am

Leave a Reply