fokus | dagdigdug

melontar di tengah kabar

REPUBLIK DAGDIGDUG  

\Kocap kacarita, terebutlah sebuah negeri yang terkenal gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kertaraharja, subur kang sarwa tinandur. Pokonya kaya, aman, nyaman, sejahtera serta subur tanahnya, tumbak kayu dan batu pun jadi tanaman. Tapi itu dulu….dulu sekali, sebelum orang mengenal Nasdaq, Hanseng, NYSE, BEJ, serta OPEC maupun Googling.

Lain dulu lain sekarang. Ketika perekonomian Amerika –negara tetangga yang jauh di ujung dunia sebelah sana—kocar kacir akibat krisis Subprime Mortgage (kredit perumahan berkualitas rendah) yang berkepanjangan. Negeri ini jadi dagdigdug nggak karuan. Efeknya sampai ke sini. Apalagi ketika harga minyak dunia terus beranjak naik sampai 124 US$ bahkan diramalkan (mudah-mudahan jangan) bisa mencapai 200 US$ per barrel. Degup jantung negeri ini semakin kencang.

Kenapa bisa begitu, padahal negeri ini adalah anggota OPEC, negara pengekspor minyak? Kenapa ketika harga minyak membubung tinggi kok tidak bisa mendapat manfaat, malah dapat musibah? Benar. Negeri ini menjadi anggota OPEC sejak tahun 1962. Ketika itu produksi minyaknya mencapai 1,6 juta barrel per hari, dan konsumsi minyaknya masih dibawah 1 juta barrel per hari. Karenanya masuk OPEC jadi strategis, untuk bisa ikut menentukan harga minyak dunia.

Tapi sejak tahun 2003 sampai sekarang Indonesia sudah menjadi net oil importer. Bahkan tahun ini impor minyaknya sekitar 2,1 juta barrel per hari, sedangkan produksi nasional cuma 846.000 barrel per hari, atau ranking ke-10 dari 13 anggota OPEC yang total produksinya mencapai 28 juta barrel per hari. Konkretnya tak lagi berpengaruh dalam menentukan harga.

Tahun 2005 sudah kencang wacana agar negeri ini, keluar dari OPEC, karena sebagai konsumen lebih pantas masuk ke Badan Energi Internasional (IEA). Tapi nggak tahu kenapa, niat itu tidak kesampaian sampai sekarang. Bahkan bisa dipastikan sampai akhir tahun ini pun belum akan keluar dari OPEC, bukan karena OPEC sudah tak penting lagi, tapi karena, negeri ini sudah terlanjur membayar iuran tahunan yang besarnya mencapai 2 juta euro atau sekitar Rp 28 miliar. Sayang kan habis bayar kok keluarJ.

Lalu apa yang bisa dilakukan dengan kenaikan harga minyak dunia yang kesetanan ini? Para pemimpin negeri ini sepakat, untuk mengurang subsidi BBM sebesar Rp 30 trilyun. Itu artinya harga BBM akan naik sekitar 30%. Nah, kini giliran rakyatnya yang dagdigdug, karena pemerintah belum memastikan kapan kenaikan akan dilaksanakan, tapi beberapa komoditas sudah keburu naik harga sebagai bentuk antisipasi kenaikan harga BBM.

Kenapa para petinggi negeri belum juga memastikan tanggal kenaikan harga BBM? Banyak sebab. Bisa jadi mereka juga sedang dagdigdug. Karean seperti biasanya, setiap kali kenaikan harga BBM akan diikuti dengan demo mahasiswa besar-besaran, yang akan merongrong kredibilitas mereka sebagai pemimpin..

Atau bisa juga mereka sedang dagdigdug sambil memeras otak, agar kenaikan harga BBM ini tidak mengurangi popularitasnya. Karena tahun depan sudah pemilu. Sedang para pakar politik sudah berterikak di berbagai media, “BBM naik, popularitas SBY-JK turun”, begitu headline sebuah Koran.

BLT: Bisa Lepas TargetRupanya mereka lupa, di negeri ini, sudah terbukti , sekian kali terjadi kenaikkan harga BBM, sekian banyak demo menyertainya, sekian banyak pakar mengecamnya, tapi belum pernah ada pengusa turun karena menaikkan harga BBM.

Yang pasti seperti disampaikan para petinggi ekonomi negeri ini: sekarang mereka sedang sibuk menyiapkan kompesasi bagi rakyat, khususnya rakyat miskin. Disampaikan bahwa rakyat miskin akan mendapat BLT plus. Yaitu Bantuan Langsung Tunai Rp 100 ribu persis sama seperti tahun 2005 ketika hagra BBM naik 126%, tapi ditambah komoditas pangan berupa minyak goreng dan gula. Untuk BLT kali ini, pemerintah telah menganggarkan sebanyak Rp 17 triliun. Sedang jumlah jumlah keluarga miskin yang terdaftar sebanyak 19,1 juta. Jumlah inilah yang akan kebagian kupon BLT.

Di sini kembali mereka lupa bahwa pelaksanaan BLT tahun 2005 lalu tidak memenuhi sasaran. Betapa tidak, Departemen Sosial sendiri sebagai pelaksana BLT saat itu, menyatakan bahwa efektivitas BLT hanya sekitar 54,96 persen. Sedang data yang lain menyebut sebanyak 45% rumah tangga miskin penerima BLT menyatakan bahwa bantuan itu tidak meringankan biaya hidup mereka.

Maka lengkaplah sudah sebutan negeri ini menjadi negeri dagdigdug. Rakyatnya dagdigdug, menti kebijaksanaan pemerintah, yang bisa diduga membawa jantung berdetak lebih keras, sekeras kehidupan yang akan dihadapi. Pemimpinnya pun dagdigdug, khawatir kebijakan yang dibuat ditentang oleh rakyat. Dagdigdug kalau pemilu depan tak lagi dapat mandat.

Lha terus apa yang lebih pas dilakukan untuk menhadapi membumbungnya harga minyak dunia? Kalo boleh usul, ya nggak usah menaikkan harga BBM. Rakyat tidak protes, mahasiswa tidak demo. Tapi gimana menutup defisit APBN? Ya, tutup saja kran-kran keuangan negara yang bocor atau secara sistematik sengaja dibocorkan. Selanjutnya kerahkan para cerdik pandai di bidang ekonomi untuk mengatasi hal itu. Wong saya juga nggak tahu resep yang ces pleng.

Tapi kalau tetap mau menaikkan harga BBM, ya cepatlah ambil keputusan, jangan ragu. Tentang kompensasi, alokasikan ke pendidikan dan kesehatan. Bebas pungutan apa pun untuk pendidikan sampai tingkat SMU di sekolah negeri. Bebaskan biaya pengobatan dan perawatan di rumah sakit pemerintah dari Puskesmas sampai rumah sakit kelas C, untuk siapapun. Tindak tegas siapapun yang melakukan pelanggaran atas kebijakan tersebut. Toh kesejahteraan rakyat tak cuma dilihat dari sandang, pangan dan papan, tapi juga dari pendidikan dan kesehatannya.

Lha bagaimana dengan popularitas politik para petinggi negeri? Persetan dengan popularitas. Toh dulu ketika mereka dipilih, bukan karena mereka bisa menurunkan harga BBM tho. Lho tapi mereka kan pernah janji untuk tidak menaikan harga BBM, padahal janji adalah hutang? Ya, gampang aja: janji = hutang. Itu artinya kalau hutangnya ditagih, ya bayar aja dengan janji.

* Foto: vlisa.com

The article has

11 responses

Written by yusro

May 20th, 2008 at 6:26 pm

11 Responses to 'REPUBLIK DAGDIGDUG'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'REPUBLIK DAGDIGDUG'.

  1. pusing ah ngurusin negeri, mending nge-blog…hihihi

    yehia

    21 May 08 at 10:12 am

  2. sudah terbukti nggak efektif, kenapa masih diterusin yak? BLT malah bikin orang antre pamer kemiskinan. akhirnya semua pihak jadi rikuh, padahal yg bermasalah si keran bocor..

    mpokb

    21 May 08 at 1:49 pm

  3. gak usah bingung, kalo gak kuat lagi beli BBM, ya nyolong saja!

    kalo nyolongnya rame2 kan aman…

    BERSAMA KITA BISA … bangkrut!

    mastono

    23 May 08 at 12:23 am

  4. Pertanyaan saya selama bertahun-tahun telah terjawab di artikel ini. Pertanyaan yang mana? Anda tak boleh tahu.

    Terimakasih sudah menulis artikel yg sangat bermanfaat ini.

    BERSAMA KITA BISA….masuk ‘kuburan massal’!

    khairuddin

    23 May 08 at 1:02 am

  5. Ya sudah lah, bersama kita bisa … apa ajalah!

    agusto

    23 May 08 at 9:26 pm

  6. pemerintahan yang benar benar gagal.
    orang miskin dibuat wayang, harus antri kaya begitu.
    nenek nenek sepuh, simbah simbah rapuh harus berdesak desakkan demi uang yang sebenarnya hanya untuk membius mereka.

    Ini pembiusan namanya! Pembiusan kepada rakyat miskin.
    Ampun dah.

    pemerintah gagal

    24 May 08 at 6:04 pm

  7. pegelllll mikirinnya…
    mpe udah gak dagdigdug lg.
    sebel ma pemerintah.
    udahlah, yg tergerak yg bergerak aja ^_____^

    salam kenal^^

    yurika

    26 May 08 at 3:06 pm

  8. halah………ikutin aja maunya pemerintah apa……….
    kalo mau waras harus ikut pemerintah (yang gila……..)
    tp gpp sihh selama gw tetep waras…….

    baparaja

    27 May 08 at 6:28 pm

  9. reformasi dikita udah keblabasan, mending koruptornya berkurang…. perasaan malah nambah……
    daripada mikirin moral pejabat yang udah bejat, mending perbaiki moral diri kita dulu…..

    dyno

    29 May 08 at 11:07 am

  10. Itu foto waktu Imlek. Bukan waktu bagi BLT.

    kurowo

    30 May 08 at 1:58 pm

  11. Kalo BBM dunia naik sampe 200 US,gampang saja,tinggal bikin aturan SPBU hanya jual bbm utk mobil penumpang umum dan sepeda motor,,utk mobil pribadi “NO”biar semua orang pada naik Bus,naik sepeda bagi yg kaya bisa sewa Taxi,atau jalan kaki,biar sehat.

    hasyim66

    29 Jun 08 at 6:51 pm

Leave a Reply