fokus | dagdigdug

melontar di tengah kabar

Archive for the ‘Sosial’ Category

Kado untuk Pejabat: Urusan Privat atau Publik?  

hadiahDua hari setelah menikah, Ketua MPR-RI Hidayat Nur Wahid diperiksa KPK. Setelah mantu pekan lalu, Sri Sultan Hamengku Buwono X juga diperiksa oleh KPK. Sebagian dari kita mungkin risih. Masa sih pemeriksaan hadiah itu harus diumumkan, kenapa tak diam-diam saja?

Ruslan SE, Ketua Partai Indonesia Sejahtera PIS Sumatra Utara, berkomentar, “Pemberian ‘angpau’ bersifat pribadi sehingga pemeriksaan tersebut terlalu berlebihan karena bukan termasuk korupsi.”

Baiklah, mari kita urutkan. Landasan hukumnya ada. Setelah itu, apa boleh buat, adalah publisitas. Supaya pemeriksa kelihatan bekerja menjalankan amanat. Agar si terperiksa berkesempatan menunjukkan diri sebagai warga negara yang baik.

Oh, no problem dong mestinya? Masalahnya simpel saja kan? Semoga.

Ada yang lebih menarik dari publisitas ini, di luar citra diri lembaga pemeriksa dan obyeknya. Soal apa? Edukasi. Mendidik masyarakat.

Lho, memangnya masyarakat itu bodoh? Tidak. Hanya saja mereka kadang terlalu toleran dan akhirnya membenarkan sejumlah praktik menyimpang. Penyebabnya? Antara lain ya “tradisi”. Read the rest of this entry »

The article has

5 responses

Written by paman tyo

May 16th, 2008 at 11:48 am

Posted in Hukum, Sosial

Tagged with , , ,

Sekolah: untuk Membentuk atau Dibentuk?  

the wall: pink floyd, we don't need no educationNanti ketika anak-anak itu merayakan kelulusannya dengan corat-coret baju dan coreng-moreng wajah, kebahagiaan macam apakah yang mereka rasakan?

Lulus dengan mencontek, yang kuncinya disediakan oleh guru. Lulus karena koreksi jawaban oleh guru. Lulus karena formula penilaian diubah oleh birokrat pendidikan agar mengangkat yang bernilai rendah.

Bayangkan, untuk mencontek pun anak-anak itu tidak punya langkah kreatif, tetapi tinggal memanfaatkan kreativitas guru yang berawal dari operasi subuh.

Akan tetapi percayalah, ada saja murid, sekelas pula, yang ogah mencontek. Seorang guru SMP negeri di Jakarta Timur, yang pernah menjadi pengawas ujian di sekolah “luar negeri” (pinjam istilah Alix artinya “swasta”) yang kebetulan berkualitas abal-abal, jadi bingung ketika tawaran kepada peserta untuk mencontek temannya tak diacuhkan.

“Mau mencontek apa dari siapa, wong sekelas nggak ada yang bisa njawab soal bahasa Inggris itu,” kata Pak Guru asal Klaten itu. Hal sama berlaku untuk matematika. Read the rest of this entry »

The article has

5 responses

Written by paman tyo

May 12th, 2008 at 10:59 am

Posted in Sosial

Tagged with , , , ,

Jangan Menjebak, Kata SBY  

kena lu!Itulah yang terjadi. Muncul tafsiran bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono “kurang menyukai penjebakan” terhadap koruptor. Rujukan yang ditafsir adalah pidato presiden di Istana Negara, 15 April lalu.

Istana bisa berkilah itu hanya pendekatan normatif, agar edukasi hukum dikedepankan sehingga rakyat lebih melek hukum.

Istana juga boleh berkilah agar rakyat membaca keseluruhan teks, bukan hanya mengandalkan kutipan oleh media.

Artinya, bagi Istana, itu bukan sebuah imbauan agar koruptor tidak dijebak. Tapi nyatanya konteks sosial — dalam arti latar berisi serangkaian penangkapan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi — bisa memunculkan tafsir yang kurang menyenangkan.

Tapi juga berlebihan jika kita menuduh SBY menenggang korupsi. Tanpa restu presiden, mana mungkin mafia kayu Ketapang, Kalimantan Barat, bisa diaduk-aduk. Read the rest of this entry »

The article has

6 responses

Written by paman tyo

April 17th, 2008 at 11:37 pm

Posted in Hukum, Sosial

Tagged with , , ,

Mati lapar di lumbung pangan  

Aco sedang dirawatBila ada pepatah tikus mati di lumbung padi, pastilah itu tikus serakah, yang makan tanpa ukuran sampai mati kekenyangan. Nyaris sama dengan beberapa pejabat Bulog yang karena kerakusan dan keculasan akalnya memakan beras rakyat, sampai kemudian mereka “mati budi”, lalu dibui karena korupsi.

Tapi yang ini bukan pepatah, melainkan kasunyatan. Besse (36 th) yang tengah hamil tujuh bulan bersama Bahir (5 th), anaknya, Sabtu (1/3), meninggal setelah menderita kelaparan akibat tiga hari tidak makan. Sedangkan tiga anaknya yang lain bisa diselamatkan setelah masyarakat membawanya ke rumah sakit. Salma (9 th) dan Baha (7 th), segar kembali setelah diberi makan yang cukup. Sedang si bungsu Aco (3 th), sempat dehidrasi dan tidak sadarkan diri. Setelah didoping infus 3 botol, Aco siuman, meski panasnya masih tinggi.

Read the rest of this entry »

The article has

8 responses

Written by yusro

March 3rd, 2008 at 6:54 pm

Posted in Sosial

Tagged with , , ,